ABSTRAK

 

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA

SECARA RUNTUT, BAIK DAN BENAR

MELALUI PENERAPAN METODE CERITA BERANTAI

Penelitian Tindakan Kelas

Pada Siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung-Tulungagung

Tahun Pelajaran 2008/2009

Disusun oleh: SRI WAHYUNI, S.Pd.

 

Keterampilan berbicara memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia setiap hari dihadapkan dalam berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara.

Itulah sebabnya  dalam Kurikulum Pendidikan Nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia sangat ditekankan pentingnya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, runtut dan efektif, secara lisan maupun tulis. Karena hekekat belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.

Pembelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa di sekolah meliputi empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak (dengan pemahaman), berbicara, membaca (dengan pemahaman), dan menulis.

Dari keempat macam keterampilan berbahasa itu guru melihat, mengalami dan merasakan adanya masalah pembelajaran bahasa Indonesia di Kelas IVB MI Al Azhar Bandung, Tulungagung, pada semester I Tahun Pelajaran 2008/2009, terutama  keterampilan berbicara secara runtut, baik dan benar dari para siswa. Kendatipun guru telah berusaha keras untuk mengatasinya melalui pembelajaran standar dan dengan menerapkan bahan belajar serta media yang ada, namun tetap saja masalah belum teratasi.

Berdasarkan pengalaman empiris di lapangan diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Hal itu terdeteksi pada saat siswa diminta oleh guru untuk menjelaskan letak suatu tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar. Isi pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut tidak akurat dan berbelit-belit. Beberapa orang siswa ada yang  tidak mau menjawab pertanyaan guru karena sepertinya malu dan takut salah menjawab. Apalagi untuk berbicara di depan kelas, para siswa belum menunjukkan keberanian. Dan, kalaupun ada beberapa dari mereka yang memiliki keberanian, hanya sekitar 3 sampai 4 siswa (15%-21%), namun berbicaranya masih tersendat-sendat, tidak akurat dan tidak runtut.

Dari latar belakang permasalahan dan pemikiran tersebut, ditambah dengan hasil refleksi dan konsultasi dengan teman sejawat akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa perlu segera dicarikan solusi alternatif sebagai upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Adapun alternatif pemecahan masalah yang dipilih adalah dengan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) melalui penerapan metode pembelajaran cerita berantai (Telling Story Method). Dipilihnya metode ini karena dipandang mampu mengajak siswa untuk berbicara. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Tarigan (1990), “Penerapan teknik cerita berantai ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian siswa dalam berbicara. Jika siswa telah menunjukkan keberanian, diharapkan kemampuan berbicaranya menjadi meningkat.”

Penelitian tindakan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan utama pembelajaran berikut:

1.      Apakah pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode cerita berantai bisa meningkatkan aktivitas belajar siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung-Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009?

2.      Apakah pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode cerita berantai bisa meningkatkan keterampilan berbicara secara runtut, baik dan benar pada siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung-Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009?

3.      Apakah pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode cerita berantai bisa meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung-Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009?

Dari pelaksanaan  tindakan yang berjalan dalam dua siklus, diperoleh hasil akhir sebagai jawaban atas permasalahan-permasalahan tersebut sebagai berikut:

1.      Penerapan metode cerita berantai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti bisa meningkatkan aktivitas belajar siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009. Dari siklus I ke siklus II aktivitas belajar siswa baik yang berkaitan dengan motivasi belajar, keseriusan menyimak penjelasan, kerjasama dalam kelompok, interaksi belajar, keberanian bertanya dan sebagainya meningkat sebesar 26,05% (dari 52,63% pada siklus I menjadi 78,68% pada siklus II). Secara keseluruhan penelitian tindakan ini telah berhasil meningkatkan aktivitas belajar siswa sebesar 78,68%.

2.      Penerapan metode cerita berantai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti juga bisa meningkatkan keterampilan berbicara secara runtut, baik dan benar siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009. Dari siklus I ke siklus II keterampilan berbicara siswa  meningkat sebesar 15,79% (dari 68,42 pada siklus I menjadi 84,21% pada siklus II). Secara keseluruhan penelitian tindakan ini telah berhasil meningkatkan keterampilan berbicara siswa secara runtut, baik dan benar sebesar 84,21%.

3.      Penerapan metode cerita berantai  terbukti juga bisa meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia aspek  berbicara pada siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009. Dari siklus I ke siklus II prestasi belajar siswa dalam aspek berbicara meningkat sebesar 21,06% (dari 73,68% pada siklus I menjadi 94,74% pada siklus II). Dan secara keseluruhan penelitian tindakan ini telah berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa sebesar 94,74%.

            Dengan demikian terjawab sudah masalah-masalah yang timbul dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa Kelas IVB MI Al Azhar Bandung-Tulungagung Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009 melalui penerapan metode cerita berantai.

            Metode cerita berantai ternyata juga memiliki banyak segi positif dalam pembelajaran, seperti meningkatkan interaksi belajar dan kreativitas belajar siswa, menumbuhkan budaya tutor sebaya dan budaya kooperatif dalam belajar, menciptakan suasana belajar yang kontekstual (contextual teaching and learning), dan lain sebagainya.

            Untuk itu kepada teman sejawat guru disarankan untuk mencoba menerapkan metode ini jika menghadapi masalah pembelajaran yang sama atau hampir sama.

 

Tulungagung,   Nopember 2008.

Penulis,