BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.     Lokasi, Subyek dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah MI Al Azhar Bandung, Tulungagung.

Sedangkan subyek penelitiannya adalah siswa Kelas IVB dari MI Al Azhar tersebut yang seluruhnya berjumlah 19 anak, terdiri dari 8 putra dan 11 putri.

Adapun waktu pelaksanaan penelitian tindakan ini adalah pada semester I Tahun Pelajaran 2008/2009. Penelitian berlangsung selama kurun waktu tiga bulan terhitung sejak pertengahan bulan Agustus sampai dengan pertengahan bulan Nopember 2008, yang mencakup tiga tahapan kegiatan secara garis besar, yaitu tahap persiapan selama 2 (dua) minggu, tahap pelaksanaan penelitian selama 8 (delapan) minggu dan tahap penulisan laporan selama 2 (dua) minggu

 

B.  Rancangan Penelitian

 

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas, disingkat PTK. Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang dilakukan terhadap subyek penelitian di kelas tersebut.

Menurut DR.Sulipan,M.Pd, dalam tulisannya yang disusun untuk Program Bimbingan Karya Tulis Ilmiah Online (http://www.ktiguru.org) berjudul ”Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)”, pertama kali penelitian tindakan kelas diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya. Pada awalnya penelitian tindakan menjadi  salah satu model penelitian yang dilakukan pada bidang pekerjaan tertentu di mana peneliti melakukan pekerjaannya, baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu contoh pekerjaan utama dalam bidang pendidikan adalah mengajar di kelas, menangani bimbingan dan konseling, dan mengelola sekolah.  Dengan demikian para guru atau kepala sekolah dapat melakukan kegiatan penelitiannya tanpa harus pergi ke tempat lain seperti para peneliti konvensional pada umumnya. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas itu tidak lain adalah untuk memecahkan masalah, memperbaiki kondisi, mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:82), penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat dikenakan  pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi  antara peneliti dengan anggota  kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahana masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi  dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.

Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut;

1.   Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benar-benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu  ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.

2.   Kegiatan  penelitian, baik inferensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.

3.   Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien, artinya terpilih dengan  tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.

4.   Metodologi  yang digunalkan harus jelas, rinci dan  terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan  tegas sehingga orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.

5.   Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going), mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi  menjadi tantangan sepanjang waktu (Arikunto, Suharsimi, 2002:82).

Menurut Sukidin, dkk (2002:54), ada 4 (empat) macam bentuk penelitian tindakan kelas, yaitu : (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaborasi, (3) penelitian tindakan simultan terintegratif dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental. Keempat bentuk penelitian tindakan itu ada persamaan dan perbedaannya.

Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian tindakan guru sebagai peneliti, dimana guru terlibat langsung secara penuh dalam proses pelaksanaan penelitian, mulai dari tahap menyusun perencanaan, melakukan tindakan, melakukan observasi  dan tahap refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini, kalaupun ada,  peranannya  sangat kecil dan tidak dominan. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan.

            Ada banyak model penelitian tindakan yang dikemukakan oleh para ahli, tetapi secara garis besar suatu penelitian tindakan lazimnya memiliki 4 (empat) tahapan yang harus dilalui, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.

Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi empat tahapan, yaitu tahap perencanaan,  pelaksanaan, observasi dan tahap refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipilih,  yaitu penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini menggunakan model penelitian  tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharsimi, 2002:83), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan) dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.

Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1: Alur PTK

         Penjelasan alur diatas adalah:

1.   Rancangan/rencana awal. Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dahulu  menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

2.   Pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini guru menerapkan tindakan yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya, yang tidak lain adalah langkah-langkah kegiatan pembelajaran terkait dengan penerapan metode pembelajaran yang telah dipilih dan ditetapkan.

3.   Pengamatan atau observasi. Tahap ini pelaksanaannya bisa bersamaan dengan tahap sebelumnya, yakni pelaksanaan tindakan. Dan jika pelaksana tindakan (guru) sekaligus bertindak sebagai pengamat (dalam penelitian tindakan individual, di mana guru bertindak sekaligus sebagai peneliti tanpa kolaborasi dengan pihak lain), maka instrumen pengamatan sebaiknya telah disiapkan secara terstruktur dan sistematis.

4.   Refleksi. Tahap ini merupakan kegiatan untuk merenungkan dan memikirkan kembali tindakan-tindakan yang sudah maupun yang belum dilakukan,  keberhasilan dan kekurangannya, hambatan-hambatan yang dihadapi selama melakukan tindakan, dan lain sebagainya. Apabila guru pelaksana tindakan juga berstatus sebagai pengamat (peneliti), maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan ”dialog” dengan dirinya sendiri untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rencana, atau untuk menemukan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal seperti ini maka guru melakukan ”self evaluation”, introspeksi, oto-kritik, dan sebagainya yang sudah barang tentu diharapkan bisa bersikap obyektif. Dan untuk menjaga obyektifitas yang diharapkan seringkali diperlukan hasil refleksi itu divalidasi atau minimal dikonsultasikan dengan teman sejawat, ketua jurusan, kepala sekolah, atau pihak lain yang kompeten dalam bidang itu. Jadi pada intinya, kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi tindakan, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus penelitian berikutnya.

 

C.     Prosedur Penelitian Tindakan

            Sesuai dengan rancangan penelitian yang digunakan (yaitu Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research) dan alternatif tindakan dalam kegiatan pembelajaran yang ditetapkan (yaitu Metode Cerita Berantai), maka prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan tahap demi tahap dalam setiap siklusnya sebagai berikut:

·        Siklus I

1.      Tahap Perencanaan, meliputi langkah langkah kegiatan:

a.       Mencari dan mengumpulkan referensi serta bahan-bahan pustaka yang relevan.

b.      Mengidentifikasi masalah, merumuskan dan menetapkan tujuan penelitian.

c.       Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan metode cerita berantai.

d.      Menyusun format observasi dan instrumen penelitian tindakan lainnya.

e.       Menyiapkan alat dan media pembelajaran yang diperlukan.

f.        Menyiapkan alat evaluasi

2.      Tahap Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada materi atau kompetensi dasar yang telah ditetapkan dengan menerapkan tindakan perbaikan melalui metode cerita berantai sesuai skenario atau rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun sebelumnya. Langkah-langkah pembelajaran dan tindakan yang dilaksanakan  adalah:

a.       Kegiatan Awal  Pembelajaran (= 10 menit):

·        melakukan apersepsi dan memberikan motivasi

·        menyampaikan tujuan pembelajaran

·        menjelaskan tata cara penerapan metode pembelajaran cerita berantai

·        mengarahkan pembentukan kelompok kecil secara acak dan heterogen (terdiri dari 3 siswa) serta menentukan urutan tiap siswa dalam setiap kelompok sebagai arahan sirkulasi cerita yang akan disampaikan secara berantai dalam setiap kelompok.

b.      Kegiatan Inti Pembelajaran/Tindakan (= 50 menit):

·        Guru membagikankan sehelai kertas bertuliskan cerita atau pesan (kurang lebih satu atau tiga kalimat) yang telah disiapkan sebelumnya kepada siswa yang duduk di urutan pertama. Mereka dipanggil satu persatu untuk menerima teks cerita atau pesan yang harus dihafalkan dan selanjutnya menyampaikan isinya tanpa melihat teks kepada siswa yang duduk di urutan kedua dalam kelompoknya.

·        Berikutnya siswa kedua dalam tiap kelompok menyampaikan isi cerita atau pesan yang diterima kepada siswa yang duduk di urutan ketiga dalam kelompoknya.

·        Siswa ketiga selanjutnya menyampaikan kembali isi cerita atau pesan tersebut kepada siswa pertama. Pada saat ini cerita atau pesan yang disampaikan direkam oleh pendengaran guru dan seluruh siswa di kelas dan dicatat di papan tulis.

·        Siswa dan guru pada akhirnya membandingkan isi cerita atau pesan dari siswa ketiga dan pertama dengan teks aslinya.

·        Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi pembelajaran.

c.   Kegiatan Penutup (= 10 menit):

·        Guru melakukan evaluasi (memberikan Post tes)

·        Guru memberikan tindak lanjut berupa penugasan kepada siswa untuk membuat teks cerita bebas (tentang pengalaman pribadi, cita-cita, hobi, dan sebagainya) atau pesan-pesan nasihat dan motivasi paling banyak 3-4 kalimat.

  1. Tahap Pengamatan

Tahap pengamatan atau observasi dalam setiap siklus pelaksanaannya adalah bersamaan dengan tindakan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a.       Guru melakukan observasi atau pengamatan terhadap dirinya sendiri dengan cara mencatat pada format observasi yang sudah disiapkan sebelumnya  tentang tindakan-tindakan yang sudah ataupun yang belum dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.

b.      Melakukan observasi atas aktivitas belajar siswa dalam kelompok maupun dalam kelas dan interaksi belajar di antara mereka maupun dengan guru dengan cara mencatat pada lembar observasi yang telah disiapkan.

c.       Mengamati keterampilan berbicara siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung melalui penerapan metode cerita berantai.

  1. Tahap Refleksi

Pada tahap ini guru melakukan penafsiran, pemaknaan, dan evaluasi atas segala tindakan yang telah dilakukan dan hasil-hasilnya maupun atas tindakan yang belum dilaksanakan berikut hambatan-hambatannya sambil memikirkan kembali upaya perbaikan yang akan dilakukan pada tahap siklus penelitian berikutnya. Dan jika sekiranya dari tahap refleksi ini sudah bisa disimpulkan bahwa tindakan perbaikan yang dilaksanakan sudah cukup memenuhi tujuan pembelajaran yang ditetapkan, maka siklus penelitian berikutnya bisa dihentikan dan tidak perlu dilaksanakan. Sebaliknya, jika tujuan pembelajaran belum tercapai dan masih dirasa perlu untuk melakukan revisi atau langkah-langkah perbaikan tindakan lebih lanjut, maka penelitian berlanjut ke siklus berikutnya.

·        Siklus II

1.      Tahap Perencanaan, meliputi kegiatan:

    1. Menyusun rencana pembelajaran sebagai perbaikan dari rencana pembelajaran pada siklus terdahulu.
    2. Menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan.
    3. Menyusun media pembelajaran yang sesuai.
    4. Menyusun instrumen penelitian.
    5. Menyusun alat evaluasi.

2.      Tahap Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini adalah pelaksanaan dari skenario atau rencana pelaksanaan pembelajaran dengan tindakan-tindakan perbaikan yang telah ditetapkan pada tahap sebelumnya. Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada tahap ini secara garis besar sama dengan tahap pelaksanaan tindakan pada siklus I.

3.      Tahap Pengamatan

Langkah-langkah kegiatan pada tahap ini juga boleh dikata sama dengan yang dilakukan pada siklus I.

4.      Tahap Refleksi

Pada tahap ini guru melakukan refleksi atas tindakan-tindakan yang telah dilakukan pada siklus II berikut hasil-hasil yang telah dicapainya. Selain itu guru juga memikirkan kekurangan-kekurangan serta hambatan-hambatan yang masih dihadapi pada siklus II dan selanjutnya mencarikan alternatif tindakan perbaikannya untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

·        Siklus III (bila diperlukan).

D.    Alat Pengumpul Data

Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan pada waktu tertentu, (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai, dan (3) untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149). Bentuk tes yang digunakan adalah tes tulis dan tes lisan.

Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individu maupun secara klasikal serta untuk mengukur penguasaan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam pembelajaran. Di samping itu tes juga berguna untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat di mana kelemahan, khususnya pada bagian mana dari materi atau kompetensi dasar berikut indikator-indikatornya yang belum dikuasai siswa.

Di samping tes, alat pengumpul data lain yang dipergunakan dalam penelitian tindakan ini adalah format observasi berupa tabel-tabel isian yang telah dipersiapkan dan disusun secara terstruktur dan sistematis untuk mengukur aktivitas belajar siswa dan kemampuan berbicara siswa. Guru sebagai peneliti dalam hal ini tinggal membubuhkan tanda contreng atau check list pada kolom tabel isian format observasi yang sesuai dengan aspek pengamatan.

Selain itu dipergunakan juga teknik pengumpulan data yang bersifat dokumenter  melalui  tugas-tugas prtofolio dan catatan-catatan pelajaran yang telah dibuat oleh  siswa.

 

E.                 Variabel dan Data Penelitian

Beberapa pakar mengatakan bahwa dalam penelitian tindakan kelas hanya dikenal adanya variabel tunggal, yaitu variabel tindakan. Namun beberapa pakar lain, sebagaimana dikemukakan oleh DR.Sulipan,M.Pd, menyebutkan terdapat dua variabel, yaitu variabel tindakan dan variabel masalah, karena tindakan yang dilakukan adalah untuk memecahkan masalah.

Sehubungan dengan yang disebut belakangan  maka dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah “Penerapan Metode Cerita Berantai” sebagai variabel tindakan, atau dalam penelitian konvensional dikenal dengan sebutan “variabel bebas” atau “variabel pengaruh” (independent variable), sedangkan  “Aktivitas Belajar”, “Prestasi Belajar”, dan “Keterampilan Berbicara Siswa secara Runtut, Baik dan Benar”  semuanya sebagai variabel masalah, atau dalam penelitian konvensional dikenal dengan istilah “variabel terikat” atau “variabel terpengaruh” (dependent variable).

Adapun data yang diperlukan dalam penelitian tindakan ini dilihat dari sifatnya ada yang berupa data kuantitatif dan ada pula yang berupa data kualitatif, atau kombinasi dari keduanya. Data kuantitatif terutama adalah data yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa, yang datanya akan dijaring melalui alat tes tertulis dan tes lisan yang dibuat sendiri oleh guru.

Sedangkan data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan aktivitas belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas, seperti kegairahan atau motivasinya dalam belajar, ketekunan dan kerajinan atau kreativitasnya dalam kegiatan pembelajaran, keseriusan dalam menyimak penjelasan dari teman atau guru, tingkat kerja samanya dalam kelompok, tingkat interaksi belajarnya dengan sesama siswa atau dengan guru, keberanianya dalam tanya jawab dan berpendapat, keterampilan berbicara secara runtut, baik dan benar, dan lain sebagainya. Untuk data kualitatif ini pengumpulan datanya terutama dilakukan melalui format observasi dalam bentuk tabel isian yang telah dipersiapkan sebelumnya dan disusun secara terstruktur dan sistematis.

Selain itu pengumpulan data kualitatif juga dilakukan dengan teknik dokumentasi melalui lembar-lembar portofolio dan catatan-catatan pelajaran dari siswa yang relevan.

 

F.   Teknik Analisis Data

Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipakai di sini, yaitu penelitian tindakan kelas (classroom action research), maka teknik analisis data yang relevan dan yang diterapkan adalah teknik analisis deskriptif-kualitatif. Dengan teknik ini maka data yang telah dikumpulkan dari hasil  penelitian akan disortir, dikelompokkan dan disederhanakan untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk prosentase atau tabel distribusi. Dari situ kemudian dilakukan penafsiran dan pemaknaan secara kualitatif dalam bentuk seperti, tinggi-rendah, tuntas-tidak tuntas, aktif-tidak aktif, baik-kurang baik, dan lain sebagainya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

G. Indikator Keberhasilan

Tolok ukur  keberhasilan penelitian tindakan ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi proses dan dari sisi hasil. Dari sisi proses,  penelitian tindakan dengan penerapan metode cerita berantai  ini dapat dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan  aktivitias belajar siswa sebesar 75% pada akhir siklus penelitian sesuai indikator yang ditetapkan, seperti meningkatnya motivasi atau semangat belajar, interaksi belajar, ketekunan belajar, keberanian dalam tanya jawab, keseriusan dalam menyimak atau mendengarkan penjelasan, kerjasama dalam kelompok,  dan lain sebagainya.

Sedangkan dari sisi hasil, penelitian tindakan ini dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa sebesar 75% dan 85% siswa telah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu sebesar 70.

Indikator keberhasilan yang telah ditetapkan tersebut dengan sendirinya juga merupakan kriteria penerimaan ataupun penolakan hipotesis penelitian (tindakan) yang telah dirumuskan di bagian awal penelitian.

Selanjutnya, untuk memberikan pedoman dalam pemaknaan atau penafsiran hasil penelitian, perlu kiranya ditetapkan kriteria kualifikasi penilaian yang berhubungan dengan aktivitas belajar maupun prestasi belajar siswa dalam bentuk tabel berikut.

Tabel 1

Kriteria Aktivitas Belajar Siswa

No

Nilai/Frekuensi

Kriteria

1

< 40

Rendah Sekali

2

41 - 55%

Rendah

3

56 – 70%

Cukup

4

71 – 85%

Tinggi

5

86 – 100%

Tinggi Sekali

 

            Selanjutnya untuk prestasi belajar siswa dapat ditetapkan pedoman kriteria kualifikasi sebagai berikut:

 

Tabel 2

Kriteria Penilaian Prestasi Belajar

No

NiIai

Kriteria

1

< 70

Rendah/Tidak Tuntas

2

70 - 79

Cukup/Tuntas

3

80 - 89

Tinggi/Tuntas  Memuaskan

4

90 - 100

Tinggi Sekali/ Tuntas Sangat Memuaskan