HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pembelajaran PKn di kelas VII Semester II SMP Negeri 2 Sugio Lamongan ini dilakukan dalam dua siklus. Pada setiap siklus, data yang diambil adalah yang berhubungan dengan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dan nilai tes dari evalusi hasil belajar pada akhir siklus.
Hasil Observasi aktivitas siswa dari siklus ke siklus dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini :
Tabel 6
Data aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran
|
No |
Indikator |
Ketercapaian | |
|
Siklus I |
Siklus II | ||
|
1 |
Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat |
25% |
50% |
|
2 |
Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran ( meyelesaikan tugas mandiri atau tugas kelompok ) |
50% |
80% |
|
3 |
Kerjasama dalam diskusi kelompok |
40% |
75% |
|
4 |
Kreativitas siswa (membuat catatan, ringkasan) |
55% |
85% |
|
5 |
Interaksi dengan guru selama kegiatan pembelajaran |
25% |
63% |
|
|
Interaksi dengan sesama siswa selama pembelajaran ( dalam kerja kelompok) |
45% |
80% |
|
7 |
Partisipasi siswa dalam pembelajaran (memperhatikan dan mendengarkan, ikut melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk guru). |
63% |
85% |
|
|
Rata -Rata |
43,29% |
74% |
Berdasarkan tabel 6 diatas, terlihat bahwa aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 2 mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus1 yaitu sebesar 30,71%.
Selanjutnya data aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran dapat dilihat pada tabel 7 berikut.
Tabel 7
Data Aktivitas Siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran
|
No |
Indikator |
Ketercapaian | |
|
Siklus I |
Siklus II | ||
|
1 |
Tidak memperhatikan penjelasan guru |
30% |
10% |
|
2 |
Mengobrol dan bercanda dengan teman |
20% |
5% |
|
3 |
Mengerjakan tugas lain |
15% |
5% |
|
|
Rata - rata |
21,67% |
6,67% |
Berdasarkan tabel 7 diatas terlihat bahwa aktivitas siswa yang kurang relevan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 2 mengalami penurunan dibandingkan dengan siklus 1 yaitu sebesar 15%.
Selanjutnya, prestasi hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa terhadap materi pokok pembelajaran dari siklus ke siklus dapat dilihat pada tabel 6, sebagai berikut.
Tabel 8
Data Prestasi Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar Siswa
|
No |
Aspek yang diamati |
Ketercapaian | |
|
Siklus I |
Siklus II | ||
|
1 |
Nilai Prestasi Hasil Belajar rata-rata |
73,2% |
82,95% |
|
2 |
Siswa yang telah tuntas |
37,5% |
100% |
|
3 |
Siswa yang belum tuntas |
62,5% |
0% |
Berdasarkan tabel 8 tersebut, nilai rata-rata prestasi hasil belajar siswa terhadap penguasaan materi pokok “Perlindungan dan Penegakan HAM” mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 9,75% (dibulatkan = 10%). Begitu juga prosentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar meningkat banyak dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 62,5%. Sedangkan siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan drastis sebanding dengan peningkatan prosentase siswa yang telah tuntas, yaitu sebesar 62,5%.
B. Pembahasan Hasil
Siklus pertama dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Siswa dibagi menjadi delapan kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 - 5 orang. Setiap anggota kelompok diberi lembaran kasus yang telah disediakan oleh guru. Tiap-tiap kelompok melakukan pembahasan dengan mengacu kepada buku pegangan dan Undang-Undang no. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia serta Undang Undang Dasar 1945 (yang telah diamandemen).
Hasil pengamatan guru menunjukan, pada pembahasan siklus pertama dengan judul hak hidup (pro dan kontra masalah pengguguran kandungan/aborsi), terlihat para siswa sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan dan memberikan argumentasi.
Berdasarkan tabel 6 diatas terlihat dengan jelas bahwa semua aspek atau indikator dari aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran mengalami peningkatan yang sangat signifikan (setidaknya berdasar pada kriteria penilaian atau indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam penelitian ini). Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat yang pada siklus pertama hanya mendapat skor 25%, pada siklus kedua meningkat menjadi 50 %, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 25 %. Begitupun pada indikator motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran, pada siklus pertama mendapat skor rata-rata sebesar 50% namun pada siklus kedua meningkat menjadi 80 %, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 30%. Indikator kerjasama dalam kelompok diskusi juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dari rata-rata skor 40% pada siklus pertama meningkat menjadi 75% pada siklus kedua, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 35%. Prosentase kenaikan yang sama dengan indikator kerjasama dalam kelompok terjadi pada indikator interaksi dengan sesama siswa selama proses pembelajaran, dari skor 45% pada siklus pertama meningkat menjadi 80% pada siklus kedua, yang berarti juga mengalami kenaikan sebesar 35%. Demikian pula dengan indikator kreativitas siswa dalam membuat catatan, ringkasan, dan lain sebagainya, juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dari 55% pada siklus pertama meningkat menjadi 85% pada siklus kedua, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 30%.
Angka prosentase kenaikan yang sedikit lebih besar dibanding indikator-indikator lainnya terjadi pada indikator interaksi dengan guru selama kegiatan pembelajaran, yaitu dari 25% pada siklus pertama meningkat menjadi 63% pada siklus kedua, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 38%. Sedangkan angka prosentase kenaikan yang terkecil terjadi pada indikator partisipasi siswa dalam pembelajaran, seperti kesediaan memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari guru atau dari sesama siswa, yang dalam hal ini hanya mengalami kenaikan sebesar 22%, dari 63% pada siklus pertama meningkat menjadi 85% pada siklus kedua. Meskipun begitu, bila dibandingkan dengan pedoman kriteria keberhasilan (indikator kinerja) yang telah ditetapkan, yakni sebesar 10% dari siklus pertama ke siklus kedua, maka angka prosentase kenaikan pada indikator partisipasi siswa tersebut masih tergolong sangat signifikan.
Dengan demikian kiranya dapat ditarik kesimpulan sementara sebagai jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang telah dikemukakan di awal penelitian dan atau di bagian awal tulisan ini, bahwa model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction/Learning) terbukti, setidaknya dalam penelitian ini dan juga dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh sejawat guru yang lain di tempat yang juga lain, dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi hasil belajar siswa. Dengan demikian pula maka hipotesis alternatif yang telah dirumuskan pada bab sebelumnya dapat diterima kebenarannya. Selanjutnya Bab V >>