
Aduuuh…h! Susahnya mencari bang Udin dan bang Asrul (Mau tahu siapa mereka itu, klik di sini). Ini barangkali karena aye belum tahu persis alamat dan ciri-ciri mereka kali, ya. Orang kenalnya saja hanya lewat nonton sinetron di tv kok, ciri-cirinya emang sudah sedikit tahu, tapi alamat persisnya aye tidak tahu. Pantesan saja susah mencarinya.
Ya…hhh, Ini baru soal mencari bang Udin dan bang Asrul sudah susahnya begini, sampai menyisir seluruh penjuru tanah air, naik turun gunung, keluar masuk hutan, keluar masuk
Tetapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya lebih gampang mencari Tuhan katimbang mencari bang Udin dan bang Asrul tadi (Wah, ini aye bisa dibilang kemelinti dan kemeruh alias sombong dan sok tahu). Kok bisa begitu? Yah aye jadi teringat, dari hasil baca, ketika Imam Ibnu ‘Athoillah, pengarang kitab Al-Hikam yang kesohor itu ditanya oleh seseorang, “Dimanakah Tuhan itu?” Dengan entengnya Ibnu Atho’ menjawab: “lha sudah jelas gitu kok masih datanyakan” (kira-kira begitu kalau dibahasakan menurut logat Jawanya). Tapi tetap saja si awam tersebut masih belum mengerti dan kembali pulang dengan penuh tanda tanya besar dan terus melanjutkan pencariannya.
Menurut dalil naqlinya, Tuhan adalah Dzat yang Maha Haq dan Maha Nyata (Al-Malikul haqqul mubiin). Namun demikian bagi yang tidak mendapat petunjuk, tentu tidak akan bisa mengenaliNya. Matahari yang begitu terang cahayanya, tetap saja gelap bagi sang kelelawar. Hanya perlu diingat, bahwa manusia hanya bisa mengenal Allah dengan Allah. Manusia dengan apa yang ada pada dirinya sendiri, sampai kapanpun tidak akan bisa mengenal Tuhan (Allah SWT). Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Dzun Nun: ‘Araftu rabbii birabbii (Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku).
Mencari dan mengenali Tuhan adalah kewajiban pertama dan utama bagi manusia yang berakal. Kaidah dasarnya mengatakan sebagai berikut: Awwalu waajibin ‘alal insaani ma’rifatul ilaahi bistiiqaani (Kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh setiap manusia adalah mengenali Allah dengan tanpa keraguan atau dengan yakin). Dengan begitu diharapkan kita bisa menegakkan “syahadah” atau kesaksian kita akan keberadaan Allah, tidak menjadi saksi-saksi palsu. Bukankah ketika masih di alam arwah dulu semua manusia dari segala penjuru dunia dan dari segala jaman telah dibai’at oleh Allah untuk bersaksi atas keberadaanNya? Kata Allah dalam Al-Quran: Alastu birabbikum? (“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”) Kita semua manusia menjawab: "Qaaluu balaa syahidnaa" (“Ya, kami bersaksi Engkaulah Tuhan kami”).
Tetapi sayangnya, ketika manusia diberi wujud fisik dan diturunkan ke alam dunia ini, semua manusia lupa pernah bersaksi akan keberadaan Allah SWT tersebut, kecuali Nabi Muhammad. Itulah sebabnya Allah SWT mengutus para rasul untuk mengingatkan kembali umat manusia akan kesaksiannya di alam arwah dulu. Di antara kita ada yang bersyukur, tetapi banyak pula yang kufur, naudzu billah min dzalik! Menurut ilmu hukum, testimonium de auditu atau kesaksian yang diperoleh dari hasil mendengarkan cerita orang lain (tidak diperoleh dari hasil pengalaman dan penglihatan sendiri) bukanlah kesaksian, atau kesaksian yang tidak sah alias “saksi palsu”. Nah, apakah kita mau jadi saksi sejati ataukah saksi palsu, Allah SWT memberikan kebebasan kepada kita semua dengan segala konsekuensinya masing-masing.
Manusia baru bisa disebut mukmin sejati manakala pada dirinya sudah tidak lagi menyimpan (disadari atau tidak) 4 (empat) pertanyaan pokok tentang Allah. Yaitu, 1) Di manakah Allah? (Ainallah?); 2) Bagaimanakah Allah itu? (Kaifallah?); 3) Kapan Allah...? (Matallah?); dan 4) Berapakah Allah itu? (Kamillah?). Jika keempat pertanyaan ini sudah tidak lagi muncul dalam diri kita, maka insyaallah kita tergolong mukmin sejati, Allahumma ij’alnaa minhum, amin. Adakalanya orang sudah tidak lagi mempertanyakan hal itu dalam dirinya karena berkat rahmat dan hidayah dari Allah SWT dia sudah benar-benar mengerti dan menyadari apa yang mesti disadari. Tetapi banyak kiranya yang sudah tidak lagi mempertanyakan hal itu bukan karena telah mengerti dan menyadari, tetapi karena kebodohan dan juga karena terdinding oleh nafsu duniawi, sehingga mereka tidak menggunakan akalnya untuk memikirkan sedikitpun urusan yang paling mendasar dan paling hakiki dalam hidupnya, naudzu billah!
Nabi Musa dan Nabi Ibrahim (alaihimas salam) yang nabi saja butuh waktu bertahun-tahun untuk mencari Tuhan sampai akhirnya menjadi mukmin sejati dengan keyakinan yang ”ainul yakin” tentang Allah. Nah, Kalau kita mengaku mau mengikuti jejak para rasul, maka kita harus mengikuti langkah laku mereka, termasuk dalam hal ini adalah melakukan pencarian Tuhan sampai akhirnya kita menjadi mukmin sejati, menjadi saksi sejati, bukan mukmin taklid dan saksi palsu. Karena orang boleh taklid dalam masalah syariat, tetapi taklid dalam masalah akidah dan dalam masalah keimanan adalah tidak sah dan bid’ah. Karena masalah akidah atau keimanan merupakan kewajiban individual manusia, hukumnya wajib ’ain untuk melakukannya, sampai-sampai menghalalkan putusnya tali ikatan keluarga akibat perbedaan akidah (silahkan baca kisah Nabi Nuh dan anaknya, Kan’an tentang masalah putusnya ikatan keluarga ini dalam Al-quran).
Tuhan mengutus sekian banyak para rasul kepada umat manusia itu adalah untuk dijadikan contoh panutan. Jadi bukan sekedar dijadikan bahan dongengan tentang kehidupan orang-orang terdahulu. Dan yang namanya contoh, tentu bisa dicontoh dan ditiru oleh kita semua. Mustahil Tuhan memberikan contoh yang kita tidak diberi kemampuan untuk mencontohnya. Sudah barang tentu kadarnya berbeda antara yang dijadikan contoh dengan yang mencontoh, itu pasti. Tetapi satu hal yang jelas, merupakan kewajiban kita semua untuk mengikuti jejak para rasul tersebut. Sebab semua rasul kenal dan makrifat kepada Allah SWT. Kita semua juga wajib kenal dan makrifat kepada Allah SWT meskipun dalam kadar yang berbeda dengan beliau-beliau. Semua yang tersurat dalam Al-Quran itu adalah kontekstual, bukan hanya sekedar tekstual historis (cerita dan dongeng masa lalu yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita sekarang dan di masa yang akan datang, bukan!). Oleh karena itu mari kita teruskan dalam pencarian sampai akhirnya kita menemukan apa yang kita cari. Kata Allah SWT dalam firmanNya: ”Barangsiapa yang bersungguh-sungguh berjuang demi Aku (di jalanKu) atau bersungguh-sungguh mencariKu, tentu akan Aku tunjukkan jalanKu”.
Tayangan sinetron ”Pencari Tuhan” yang ditayangkan SCTV itu semoga tidak hanya sekedar menjadi tontonan di waktu luang, tetapi lebih dari itu mudah-mudahan bisa melecut dan menggugah kesadaran kita semua dari lubuk hati yang paling dasar, dari lubuk hati manusia hakiki yang sadar akan fitrah dan tugas utama hidupnya untuk menjadi saksi sejati akan keberadaan Allah SWT. Karena tanpa landasan yang satu ini, maka batallah semua amal perbuatan manusia, terbang melayang berhamburan sia-sia bak debu diterpa badai.
Salah satu kaidah yang insyaallah patut kita renungkan dan kita jadikan acuan dasar dalam pencarian ini adalah firman Allah SWT yang berikut : “Barat dan Timur (termasuk utara dan selatan, pen) adalah milik Allah. Ke manapun engkau menghadap, di situ engkau menghadap Allah (Q.S: II/115). Perhatikan juga burung-burung, pesawat terbang yang melayang di atas kita, siapa yang menopang mereka itu semua sehingga tidak sampai jatuh, tidak ada lain selain Allah SWT yang menopangnya. Dan camkan pula firman Allah SWT berikut ini: "Waman kaana fii haadzihil a'maa fahuwa fil aakhirati a'maa wa adlallu sabiilaa" (Barang siapa yang dalam masalah ini buta, maka di akhirat juga buta, dan itu adalah kesesatan yang sesesat-sesatnya"). Masalah esensial yang dimaksud dalam ayat ini tidak lain adalah masalah syahadah atau kesaksian akan keberadaan Allah SWT (jadi bukan sekedar masalah keimanan yang diucapkan dibibir, apalagi keimanan yang didasarkan pada taqlid buta).
Bagi para pencari perlu diingat, bahwa setiap pencarian memerlukan perbekalan. Pepatah mengatakan: ”mencari api harus sangu obor, mencari air harus bawa pikulan air”. Mencari sesuatu tanpa perbekalan, tidak akan sampai di tempat tujuan. Perbekalan yang diperlukan dalam hal ini tidak ada lain adalah ilmu, khususnya ilmu tauhid dan dalil-dalil naqliyah maupun ’aqliyah. Dan untuk itu tidak hanya cukup didapat dari buku-buku yang beredar di pasaran ataupun di perpustakaan saja, tetapi mutlak diperlukan kehadiran seorang guru yang ahli di bidangnya (atau dalam bahasa tarikat, guru yang tidak hanya sudah wushul, tetapi juga yang sudah makrifat billah). Karena bagaimanapun baiknya keberadaan buku, tetap saja tidak bisa menggantikan keberadaan guru. Lagi pula kata maqalah: ”Barangsiapa yang mempelajari sesuatu tanpa berguru, maka gurunya adalah syaitan”.
Dengan perbekalan tersebut minimal kita tahu alamat dan ciri-ciri yang kita cari, sehingga tidak sampai seperti keledai yang berputar di gilingan dan terus meneriakkan sesuatu dengan suara keras memekakkan telinga, namun tidak jelas maksudnya bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang mendengarkan.
Nah, sekarang sambil tetap melakukan pencarian Yang itu, aye juga mau bertanya kepada pak Jalal untuk melanjutkan pencarian tentang alamat dan ciri-ciri bang Udin ama bang Asrul, mudah-mudahan saja pak Jalal tahu.
Untuk menyudahi obrolan kita di sesi ini, aye pingin nembang cuplikan bait dari Serat Sastra Gending berikut ini (biar aye dibilang kejawen juga ndak masalah):
”...Donya iki dalan, iya kudu diambah apa mestine
ananging dudu benere yen dirungkebana.
Sing sapa ngambah dalan kudu sumurup
Yen kang ana ing ngarepe
Sanadyan diparanana, mung bakal diliwati bae”
(Dunia ini adalah jalan yang haru ditapaki sebagaimana mestinya,
tapi tidak benar bila tenggelam di dalamnya.
Barangsiapa yang menapaki jalan itu
Harus tahu bahwa yang ada di hadapannya
Meskipun dituju namun hanya dilewati begitu saja).
Selamat Mencari! Sampai jumpa di sesi berikutnya!
Banner Preview:
Banner HTML Code: